Komunikasi Pendidikan

Posted by Ahmad Nayar On Jumat, 29 Oktober 2010 0 komentar

TUGAS LIBRARY DISCUSSION

KOMUNIKASI PENDIDIKAN 1. SIAPA KOMUNIKATOR PENDIDIKAN ISLAM? 2. JELASKAN RUANG LINGKUP KOMUNIKASI PENDIDIKAN! 3. APA FAKTOR YANG MENDUKUNG DAN MENGHAMBAT KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BERIKAN SATU CONTOH? 4. APA PERBEDAAN ANTAR KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN KOMUNIKASI PEMBELAJARAN? 5. BERIKAN CONTOH KOMUNIKASI YANG EFEKTIF!

KOMUNIKASI PENDIDIKAN

KOMUNIKASI PENDIDIKAN (Upaya Mengefektifkan Sistem Informasi Dan Komunikasi Pendidikan Islam) A.Pendahuluan Manusia sebagai makhluk sosial, tidak akan pernah lepas dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Manusia akan menjadi manusia, karena berhubungan dengan manusia. Meskipun keberadaan alam dan lingkungan sekitarnya sangat penting, namun perannya hanya sebagai pelengkap dalam proses kehidupan ini. Maka keberadaan satu sama lainnya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Untuk berhubungan dengan sesamanya, tentu saja membutuhkan suatu sarana agar persepsi diantara keduanya dapat diterima. Sarana tersebut adalah melalui Komunikasi. Komunikasi berasal dari kata latin communis yang berarti “sama” communico, communication, atau communicare yang berarti “membuat sama”. Definisi komunikasi yang mudah dan gampang di ungkapkan menurut Harold Lasswell, yakni who says what in which chanel to whom with what effect atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana. Komunikasi merupakan proses interaksi sosial yang digunakan orang untuk menyusun makna yang merupakan citra mereka mengenai dunia dan untuk bertukar citra itu melalui simbol-simbol. Seperti kita ketahui, adanya suatu bentuk pasti terdapat elemen-lemen yang menjadikan sesuatu itu ada. Demikian juga halnya dengan komunikasi. Komponen tersebut yakni, pertama Sumber (source) sering juga disebut pengirim (sender), penyaji (weoder), komunikator (communicator), pembicara (speacker), atau originator, yakni pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi, baik secara individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau bahkan negara. Kedua, adalah pesan, yaitu merupakan simbol verbal dan atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan dan lain-lain. Ketiga, adalah saluran atau media, yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesan kepada penerima. Ke-empat, penerima (receiver) sering juga disebut sasaran atau tujuan (destination), penyandi balik (decoder), komunikate (communicate) atau khalayak (audience), pendengar (listener), penafsir (interpreter) yakni orang yang menerima pesan. Kelima, efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut, misalnya pemahaman, perubahan, perubahan keyakinan, perubahan prilaku dan sebagainya. Secara sederhana proses komunikasi tersebut digambarkan sebagai berikut: Sumber: Usman Abu Bakar (2003) Adapun tujuan diadakannya komunikasi, menurut Gordon I Ziemmerman dibagi menjadi 2 kategori besar. pertama, kita berkomunikasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang penting bagi kehidupan kita. Kedua, kita berkomunikasi untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain. Jadi komunkasi mempunyai fungsi isi, yang melibatkan pertukaran informasi yang kita perlukan untuk menyelesaikan tugas, dan fungsi hubungan yang melibatkan pertukaran informasi mengenai bagaimana hubungan kita dengan orang lain. Sedangkan fungsinya, menurut Rudolph F Verderber ada 2, yakni fungsi sosial, yakni untuk tujuan kesenangan, untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan. Dan fungsi pengambilan keputusan, yakni memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada suatu saat tertentu. Seperti, apa yang akan kita makan pagi ini, apakah kita akan kuliah atau tidak, bagaimana belajar untuk menghadapi ujian dan lain sebagainya. Di dalam suatu sistem informasi dan komunikasi, sifat komunikasi terdapat sistem tertutup dan terbuka. Artinya, dari situ kita dapat mengetahui apakah sistem tersebut tidak menerima input dari luar atau dapat menerima input dari luar. Dengan demikian proses interaksinya tidak hanya terjadi di antara komponen dan atribut yang berada di dalam suatu kapsul, tetapi juga dengan lingkungannya. Oleh karena itu, proses balikannya dapat menghasilkan perubahan yang tidak mutlak bersifat normative, tetapi bersifat lentur dan terbuka untuk perkembangan dan pembaruan (deskriptif). Semua proses komunikasi ini, terjadi dalam suatu konteks atau keterpaduan tertentu. Paling sedikit proses ini akan mencakup dimensi-dimensi kejiwaan (perilaku para pelaku), sosial atau komunitas, fisik, serta waktu. Artinya proses komunikasi tersebut akan sangat dipengaruhi oleh sikap dan motivasi komunikasi sebagai sumber, daya tangkap, sikap komunitas sebagai interlocutor (kawan bicara) kecukupan sarana, serta kesempatan waktu. B. Komunikator dalam Pendidikan Islam. Dalam masyarakat informasi, definisi manajer yang benar adalah bukannya mereka yang mampu memberikan pencapaian produksi yang banyak, efektif dan efisien, tetapi adalah mereka yang mampu memberikan tanggung jawab pada penampilan nilai-nilai kemanusiaan dan penampilan keilmuwan yang tinggi sekaligus. Dengan demikian, knowledge tidak semata-mata menjadi alat ketiga, tetapi telah berubah menjadi sistem kerja dalam tata kehidupan bersama. Dan sejak itu pula, modal kerja telah bertambah menjadi “sumberdaya alam”, “sumberdaya manusia”, dan kini bertambah satu lagi yakni “sumberdaya Ilmu”. Dalam dunia Pendidikan, yang menjadi komunikator adalah seluruh komponen yang ada di dalam lembaga tersebut. Mulai dari Kepala Sekolah, Dewan Guru, Staf karyawan, Murid, sarana prasarana, kurikulum, dan lain sebagainya. Oleh karena itu tanggung jawab seorang manajer terletak pada masing-masing komponen tersebut, artinya masing-masing komponen bertanggung jawab atas kapasitasnya. Pada setiap penelitian khusus mengenai pekerjaan-pekerjaan perusahaan/lembaga –lembaga pendidikan khususnya¬- umumnya dilakukan oleh subsistem penelitian Sumberdaya manusia. Penelitian ini mengungkapkan tugas-tugas pekerjaan yang harus dilaksanakan, pengesahan dan keahlian yang diperlukan, dan tingkat kompensasi yang sesuai. Maka Sumberdaya manusia harus mengetahui perkembangan yang terjadi yang terakhir dari berbagai pengaruh lingkungan yang mempengaruhi arus personil, karena semua ini merupakan tanggung jawab subsistem Intelijen Sumberdaya Manusia. Adapun tantangan terhadap pembangunan Sistem Informasi ini, sebagaimana terdapat dalam GIS (Global Information System) yakni: 1.Tantangan Teknologi Kadang-kadang sebuah lembaga dipaksa menggunakan perangkat berat, perangkat lunak dan fasilitas komunikasi tertentu, karena keterbatasan pemerintah. Keterbatasan ini menyulitkan tercapainya standar perangkat keras dan perangkat lunak secara global dan menambah waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan sistem itu. 2.Tantangan Budaya Yang lebih sulit adalah tugas menerapkan teknologi komputer dalam berbagai budaya yang berbeda. Budaya mempengaruhi kinerja spesialis informasi dan kebutuhan informasi pemakai. Dalam bidang pendidikan, manajemen pendidikan adalah aplikasi prinsip, konsep dan teori manajemen dalam aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Untuk menjalankan organisasi pendidikan, diperlukan manajemen pendidikan yang efektif. Sekolah harus dikelola dengan manajemen efektif yang mengembangkan potensi peserta didik sehingga memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang mengakar pada karakter bangsa. Dengan kata lain, salah satu strategi yang menentukan mutu pengembangan SDM di sekolah untuk kepentingan bangsa dimasa depan adalah peningkatan kontribusi manajemen pendidikan yang berorientasi mutu (quality oriented). Dalam realitasnya, tantangan krusial yang dihadapi oleh manajer atau pengelola lembaga pendidikan, dewasa ini, yakni bagaimana upaya mengelola sekolah, akademi dan universitas agar dapat berkembang dan berkualitas. Kerja keras tersebut tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya proses saling mendukung antara peserta didik, yakni guru, siswa, sarana prasarana kurikulum dan lainsebagainya. Institusi pendidikan perlu dikelola untuk mencapai hasil yang optimal. Disini hasil optimal itu ditandai mutu kelulusan yang andal dan sesuai dengan harapan masyrakat. Hal ini penting dan strategis sekali karena peranan pendidikan terkait dengan masa depan suatu bangsa. Karena keberhasilan dalam pendidikan sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Manajemen mutu dalam pendidikan dapat saja disebutkan “mengutamakan pelajar” atau “problem perbaikan sekolah”, yang mungkin dilakukan secara lebih kreatif dan konstruktif. Penekanan paling penting bahwa mutu terpadu dalam programnya dapat mengubah kultur sekolah. para pelajar dan orang tuanya menjadi tertarik terhadap perubahan yang ditimbulkan manajemen mutu terpadu melalui berbagai program perbaikan mutu. Adapun, aplikasi TQM (Total Quality Manajemen) dalam satuan pendidikan dapat pula disebut Total Quality School (TQS) sebagaimana Acaro (1995) mengemukakan 5 pilarnya yaitu : 1.Fokus kepada pelanggan, baik internal maupun eksternal 2.Adanya keterlibatan total 3.Adanya ukuran baku mutu kelulusan sekolah 4.Adanya komitmen, dan 5.Adanya perbaikan yang berkelanjutan. Semua itu akan berjalan dengan baik apabila mendapat dukungan dari semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan, yakni peserta didik, masyarakat dan pemerintah. C.Massage (Pesan) yang Efektif Seluruh kegiatan yang ada dalam satuan lembaga pendidikan adalah pesan. Secara spesifik pesan tersebut dapat terlihat melalui publikasi baik secara lisan maupun tertulis. Sarana yang digunakanpun bermacam-macam, sesuai dengan keinginan maupun kemampuan finansial lembaga tersebut. Pesan yang disebarkan melalui media masa ini bersifat umum (public), karena ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan umum. Jadi tidak ditujukan kepada perseorangan atau kepada sekelompok tertentu. Isi pesan dalam Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Islam adalah segala yang ada di dalam lembaga pendidikan. Semua aspek yang terdapat dalam lembaga tersebut terdapat komponen-komponen yang dianggap menjadi pesan efektif yakni: 1.Komponen Teknologi Pendidikan meliputi: a.Asumsi-asumsi kebutuhan serta rumusan tujuan pendidikan dan pengajaran yang dirancang untuk keperluan proses belajar mengajar. b.Memahami pengalaman belajar subjek didik dan pemilihan cara-cara pengajaran. c.Tenaga kependidikan, bahan dan alat pendidikan serta fasilitas phisik yang diperlukan. d.Sumber belajar yang diperlukan untuk pengalaman belajar subjek didik. e.Hasil belajar yang diharapkan, evaluasi dan pengembangan. 2.Komponen Fasilitas dan sumber belajar Teknologi Pendidikan, meliputi: a.Terjadi objek nyata yang akan disajikan selama proses belajar mengajar berjalan. b.Pemanfaatan semua fasilitas dan sumber belajar akan disesuaikan dengan setiap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. c.Mutu pendidikan tidak sekedar tersedianya semua sarana media akan tetapi lebih banyak tergantung kepada kemampuan pendidik dan sekolah dan sekolah dalam menggunakannya, memilih dengan cermat dan tetap sesuai dengan metoda yang diterapkan. 3.Citra Pendidikan Berorientasi Mutu Hasil meliputi: a.Memiliki kelengkapan fasilitas dan sumber belajar diperhatikan dari kondisi bangunan pusat-pusat pendidikan. b.Mengikuti trend perkembangan bahan dan alat belajar mengajar dengan teknologi pendidikan. c.Memiliki kelengkapan sarana sumber belajar di luar sekolah. d.Memiliki kelengkapan pusat media dan sumber belajar (pada tingkat perguruan tinggi) serta tenaga ahli teknologi pendidikan. 4.Profesionalisme Staf Ahli Teknologi Pendidikan, meliputi; a.Profesional media, yakni semua tenaga ahli media, bertanggung jawab atas perencanaan, pengembangan, pemanfaatan serta peningkatan mutu fasilitas sumber belajar. b.Spesialis media, staf ahli yang bertanggung jawab pada pusat sumber belajar. c.Manajer program media bertugas dan bertanggung jawab pada pusat media dan sumber belajar di pemerintahan. d.Teknisi media, tenaga staf yang bertanggung jawab dan memiliki keterampilan oleh data elektronik. e.Administrator media, staf yang melayani admisi pusat-pusat media. f.Ahli evaluasi media. Salah satu isi pesan dalam Komunikasi Pendidikan Islam adalah Proses di dalam Total Quality School. Proses tersebut digambarkan sebagai berikut: Total Quality School Proses selanjutnya adalah: Total Quality School\ D.Media sebagai sarana Proses Transformasi dalam Komunikasi Pendidikan Islam. Sebuah pesan tidak dapat diterima oleh audiens apabila tidak pernah dikomunikasikan. Untuk mengkomunikasikan pesan tersebut sangat dibutuhkan akan adanya media, baik elektronik maupun media cetak. Maka peran media menjadi penentu, apakah pesan tersebut efektif atau sebaliknya terjadi miskomunikasi. Media ini dapat diibaratkan seperti pedang bermata dua. Dia merupakan alat yang ampuh dalam memberikan manfaat yang semaksimal mungkin kepada masyarakat sesuai dengan ketepatan dan besarnya pengarahan. Media yang sehat dapat memainkan peranan penting dalam membina generasi dan mendorongnya menaiki jenjang kemajuan. Demikian juga sebaliknya, media dapat merusak generasi muda yang sedang gencar-gencarnya mencari jati diri. Untuk menyiasati media massa, kita harus mengenal seluk beluk Jurnalistik. Dunia jurnalistik sangat erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa. Jurnalistik merupakan salah satu bentuk spesialisasi dari komunikasi massa, yakni komunikasi yang dilakukan melalui media massa. Media massa yang kita kenal saat ini adalah; a) media cetak, terdiri dari surat kabar, tabloid, majalah, b) media elektronik, terdiri dari radio, televisi, dan lain-lain. Komunikasi bermedia komputer, internet, dapat memperlancar penanggulangan hambatan-hambatan karena terbatasnya ruang dan waktu. Jadi lokasi secara fisik sudah tidak relevan lagi. Dengan teknologi baru bermedia komputer ini, setiap orang ataupun pegawai dapat berhubungan dengan siapapun, dan dimanapun dalam organisasinya. Sudah bukan masalah lagi apakah mereka dalam satu gedung atau mereka dipisahkan oleh jarak geografis. Karena pesan-pesan komunikasi bermedia komputer dapat menerobos hirarki tradisional dan hambatan-hambatan departemennya dengan mudah, batas-batas organisasi dapat hilang karena hubungan yang melekat dengan proses komunikasi organisasi, komunikasi bermedia komputer dapat menentukan norma-norma, prilaku, dan keputusan organisasi. Jadi implikasi sistem komunikasi bermedia komputer harus menjadi perhatian pokok semua orang.. Setiap media komunikasi mempunyai Gramatika. Setiap gramatika media dibiaskan untuk kepentingan indera tertentu, bukan untuk kepentingan waktu/ruang, karena orang-orang menggunakan media tertentu, mereka secara berlebihan mengandalkan indera yang berkaitan dengan media tersebut. Maka sampai tahap ini, media merupakan perpanjangan dari indera manusia, berbicara sebagai perpanjangan indera untuk suara, cetakan merupakan perpanjangan dari indera untuk penglihatan, dan media elektronik tertentu, terutama televisi adalah perpanjangan indera peraba (perasaan, sentuhan, sistem syaraf). Dalam bentuk yang sederhana, lembaga pendidikan juga dapat menggunakan brosur-brosur, pamflet, majalah, kostum, sticker, serta berbagai souvenir (cinderamata) yang didesain dengan mencantumkan nama lembaga tersebut. Selain itu dapat juga dengan mempublikasikan bentuk-bentuk kegiatan sosial seperti Seminar, event-event turnamen, bahkti sosial maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan sosialisasi yang demikian, secara otomatis khalayak dapat menangkap pesan yang disampaikan melalui pemberitaan. Karena berita adalah informasi yang lebih atau kurang penting dibutuhkan orang dalam melakukan penyesuaian terhadap keadaan yang berubah, berita dicari, bahkan dengan pengorbanan besar, karena diperlukan untuk memperoleh posisi dalam dunia yang berubah dengan cepat. E.Khalayak/ stakeholder yang dituju. Khalayak atau masyarakat adalah bagian dari proses komunikasi yang tidak kalah penting, sekaligus menjadi Komunikannya (orang yang menerima pesan). Tanpa ada khalayak informasi akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu peran khalayak sangat dibutuhkan sebagai tempat mensosialisasikan program-program dalam lembaga pendidikan. Khalayak juga sekaligus menjadi pelanggan. Menurut Soerjono Soekanto, khalayak dapat dibedakan menjadi, rural community dan urban community. Istilah Rural community diterjemahkan sebagai “masyrakat setempat”. Istilah ini menunjuk kepada sebuah warga desa, suku atau bangsa. Cirinya apabila anggota-anggota suatu kelompok, baik kelompok itu besar maupun kecil, hidup bersama sedemikian rupa sehingga merasakan makna yang utama, maka kelompok tadi disebut masyakarat setempat. Adapun yang dimaksud urban community adalah masyarakat perkotaan, yakni masyarakat yang tidak tertentu jumlah penduduknya. Tekanan pengertian “kota”, terletak pada sifat serta ciri kehidupan yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Khalayak atau komunikan merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat dalam proses komunikasi sebagai sasaran yang dituju oleh komunkator yang bersifat heterogen. Dalam keberadaannya secara terpencar-pencar, dimana satu sama lainnya tidak saling mengenal dan tidak memiliki kontrak pribadi, masing-masing berbeda dalam berbagai hal, jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan, pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita dan lain sebagainya. Adapun ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat kedalam suatu lapisan serta seberapa besar pengaruhnya adalah sebagai berikut: 1.Ukuran kekayaan. Barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk dalam lapisan teratas. 2.Ukuran Kekuasaan. Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang terbesar, menenpati lapisan teratas. 3.Ukuran kehormatan. Orang yang paling disegani dan dihormati mendapat tempat yang teratas 4.Ukuran Ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang mengharagai ilmu pengetahuan. Perkembangan masyarakat mempunyai tujuan untuk terjadinya; a) peningkatan kesejahteraan hidup dan kualitas kehidupan masyarakat, b) pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan, dan c) terjabarnya kebijaksanaan dan program pembangunan nasional untuk masyarakat pedesaan, dengan menitik beratkan pada prakarsa masyarakat itu sendiri. Singkatnya, pembangunan masyarakat merupakan upaya wajar yang didasarkan atas kebutuhan individual, masyarakat, dan pemerintah serta potensi-potensi yang tersedia atau dapat disediakan untuk mewujudkan kemajuan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Sedangkan masyarakat informasi ditandai oleh: pertama, kebutuhan terhadap sumberdaya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi. Kedua, lapangan kerja yang dominant di bidang informasi. Ketiga, teknologi dasar yaitu elektronika dan computer. Ke-empat, lembaga pemicu kemajuan adalah universitas riset, dan Kelima adalah media komunikasi menggunakan media interkatif. F. Feed Back (umpan balik) yang diharapkan. Feed back (umpan balik) merupakan akhir dari sebuah proses komunikasi. Komunikasi yang baik, akan menghasilkan umpan balik yang baik juga. Umpan balik ini diberikan oleh komunikan atau khalayak kepada komunikator. Umpan balik juga terwujud dalam bentuk yang berbeda-beda misalnya menerima, menerima dengan syarat, ataupun menolak. Semua jenis umpan balik tersebut tertuang dalam bentuk Opini Publik (Social Judgement). Opini publik adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat komunitas, cara singkat untuk melukiskan kepercayaan atau keyakinan yang berlaku di masyarakat tertentu. Artinya pendapat atau pandangan tentang sesuatu. Karena itu, opini bersifat subjektif karena pandangan atau penilaian seseorang dengan selalu berbeda. Jadi, kendati faktanya sama, namun ketika orang beropini, antara orang yang satu dengan yang lainnya memperlihatkan adanya perbedaan. Opini dapat dinyatakan secara aktif maupun pasif. Opini dapat dinyatakan secara verbal, terbuka dengan kata-kata yang dapat ditafsirkan secara jelas ataupun melalui pikiran-pikiran kata yang sangat halus (dalam Koran misalnya) dan tidak langsung dapat diartikan. Disinilah tantangan terberat yang harus dihadapi oleh manajemen informasi pendidikan Islam. Sebaik apapun publikasi yang dilakukan, apabila sudah ditangkap oleh khalayak akan menjadi multi-interpretasi. Tentunya persiapan mental lebih utama daripada perangkat keras lainnya. Proses opini tersebut melalui tiga tahap: pertama, konstruksi personal, yakni tahap dimana individu mengamati segala sesuatu, menginterpretasikannya dan menyusun makna objektif secara sendiri-sendiri dan subjektif. kedua, konstruksi sosial, yakni tahap menyatakan opini melalui pemberian dan penerimaan opini pribadi dalam kelompok, mengungkapkan pandangannya bukan melalui kelompok, melainkan melalui kebebasan pribadi, dan menggungkapkan pandangan berdasarkan organisasi. Ketiga, konstruksi politik, yakni tahap yang menghubungkan opini publik dengan kegiatan publik. Untuk memudahkan menginterpretasikan proses umpan balik, berikut adalah skema sederhana yang menggambarkan proses tersebut: Sumber: Usman Abu Bakar (2003). Sistem pengendalian umpan balik merupakan proses mengukur keluaran dari sistem yang dibandingkan dengan suatu standar tertentu. Terdapat empat komponen dalam sistem umpan balik ini. Yakni pertama, suatu karakteristik atau kondisi yang dikendalikan. Kedua, suatu sensor yang mengukur karakteristik atau kondisi tersebut. Ketiga, suatu unit pengendali yang membandingkan hasil ukuran sensor dengan suatu standar. Ke-empat, suatu pengatur yang menghasilkan masukan proses selanjutnya. Selain sistem pengendalian umpan balik, terdapat sistem pengendalian umpan maju, disebut juga dengan positif feedback. Yakni karakter kerja sistem yang mendorong proses dari sistem supaya menghasilkan hasil balik yang positif. Contoh penerapan dari sistem pengendalian maju pada Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Islam adalah perencanaan atas pengembangan kurikulum. Kompetensi atas suatu mata ajar dapat dideteksi secara lebih dini sedari awal. Oleh karena itu, apapun alasannya, pendidikan yang baik harus mampu memberi sumbangan pada semua bidang pertumbuhan individu, baik jasmani maupun segi struktural dan fungsional. Pendidikan yang baik juga membantu menumbuhkan kesediaan, bakat-bakat, keterampilan, dan kekuatan jasmaninya, begitu juga memperoleh pengetahuan. dalam bidang pertumbuhan akal (intellectual) pendidikan harus dapat menolong individu untuk meningkatkan, mengembangkan, dan menumbuhkan kesediaan bakat, minat dan kemampuan akalnya dan memberinya pengetahuan dan keterampilan akal yang perlu dalam kehidupannya anak didik. G. Penutup Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan perlu strategi komprehensip terlebih dahulu. Terdapat langkah-langkah yang harus ditempuh agar tidak terjadi pemborosan dan hanya untuk pemenuhan kebutuhan perangkat keras saja. Perkembangan teknologi komunikasi juga akan mempercepat terwujudnya rasa persatuan dari etnik dengan kebudayaanya yang khas. Melalui teknologi informasi akan dapat dikembangkan masyarakat telematika. Yakni masyarakat yang tidak mengenal batas geografi. Melalui jalan informasi (information super highway) maka akan dapat dijalin buka saja solidaritas suatu masyarakat demokrasi hanya dapat terlaksana dengan baik di dalam otonomi daerah. Mengenai hasil pendidikan yang banyak dikatakan merosot, banyak sarjana menganggur misalnya, dan pendidikan menjamur, sekedar untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi, menurut Sindhudarmoko disebabkan kemajuan teknologi dan kebudayaan lebih cepat dari pendidikan itu sendiri. Ia berpendapat bahwa proses pendidikan itu cenderung tertinggal dari proses perkembangan yang terjadi di masyarakat, artinya kemajuan yang dicapai dibidang pendidikan (out put-nya) selalu ketinggalan dengan apa yang diperlukan masyarakat. Ungkapan tersebut sama halnya dengan kegelisahan Alvin Toffler sebagaimana pengantarnya dalam Future Shock (kejutan masa depan) yakni: pertama, bahwa kejutan masa depan bukan lagi merupakan bahaya potensial yang masih jauh, tetapi suatu penyakit nyata yang di derita oleh semakin banyak manusia. Kondisi psikologis-biologis ini dapat digambarkan dengan terminologi medis dan psikiatris. Penyakit ini ialah penyakit perubahan. Kedua, sedikitnya orang yang tahu tentang penyesuaian diri, baik mereka yang menginginkan dan yang menciptakan perubahan besar dalam masyarakat kita, ataupun mereka yang seharusnya mempersiapkan kita untuk menghadapinya yakni dengan sistem “pendidikan demi masa depan”. Oleh karena itu, informasi sudah tidak menjadi bagian pemenuhan kebutuhan dalam hal-hal tertentu, melainkan sudah menjadi kebutuhan setiap hari bagi siapa saja. Sebab gelombang ketiga tidak hanya mempercepat arus informasi kita, tetapi gelombang inipun mentransformasikan landasan struktur informasi yang selama ini menentukan prilaku sehari-hari. Jadi selama kita tidak cepat merubah Sistem pendidikan sekaligus menginformasikan perubahan tersebut, selama itu juga kita terus ketinggalan kereta. DAFTAR PUSTAKA Aceng Abdullah. 2001. Press Relations, kiat berhubungan dengan media massa. Penerbit Remaja Rosda karya Bandung. Alvin Toffler. 1992. Kejutan Masa Depan. Alih bahasa Sri koesdiyantinah sb. Penerbit Pantja Simpati Jakarta. ¬¬¬___________. 1992. Gelombang Ketiga (bagian kedua). Alih bahasa Sri Koesdiyantinah sb. Penerbit Pantja Simpati Jakarta. Dan Nimmo. 1999. Komunikasi Politik, komunikator, pesan, dan media. Alih bahasa tjun surjaman. Pengantar Jalaluddin Rahmat. Penerbit Rosdakarya, Bandung. Deddy Mulyana. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung. Gordon I Zimmerman, James L Owen, dan David R Siebert. Speech Communication: A Contemporary Introduction. St. Paul : west 1977. Hasan Langgulung. 2000. Asas-asas Pendidikan Islam. Penerbit al husna-zikra, Jakarta. H.A.R. Tilaar. 2002. Perubahan Sosial dan Pendidikan, pengantar pedagogik transformatif untuk Indonesia. Penerbit Grasindo Jakarta. Rudolph F Verderber. Communicate ! Belmont. California: wodswoeth. 1978. Jusuf Amir Feisal. 1995. Reorientasi Pendidikan Islam. Penerbit Gema Insania Press, Jakarta. Mastuhu. 2004. Menata Ulang Pemikiran, sistem Pendidikan Nasional dalam abad 21. penerbit kerjasama Magister Studi Islam UII dengan Safiria Insania Press, jogjakarta. Muna Haddad Yakan. 1995. Hati-hati Terhadap Media yang Merusak Anak. Penerbit Gema Insania Press, Jakarta. Onong Uchjana Effendy. 1998. Ilmu Komunikasi, teori dan praktek. Penerbit Remaja Rosdakarya Bandung. Raymond. Mc Leod. Jr. 1995. Sistem Informasi Manajemen. Alih bahasa Hendra Teguh, editor Hardi Sukardi. R Wayne Pace & Don F Faules. 1998. Komunikasi Organisasi, strategi meningkatkan kinerja perusahaan. Editor Deddy Mulyana. Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung. Sintong Silaban. Dkk. 1993. Pendidikan Indonesia, dalam pandangan lima belas tokoh pendidikan swasta. Penerbit Dasamedia Utama Jakarta. Hal. 188. Soerjono Soekanto. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Penerbit Raja Grafindo Persada, Jakarta. Sudjana. 2004. Pendidikan Nonformal, wawasan, sejarah perkembangan, filsafat, teori pendukung, dan asas. Penerbit Falah Production Bandung. Syafaruddin. 2002. Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan, konsep, strategi, dan aplikasi. Penerbit Grasindo, Jakarta. Tamotsu Shihbutani. 1965. Improvised News, the bobs- Merrill co, inc. Indianopolis. Usman Abu Bakar. 2004. Materi perkuliahan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Islam.
sumber: http://zafazain.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Jejak Komentar Anda!!!